Terlahir
sebagai anak kampung, menjadi kesyukuran besar dalam hidup saya. Karena dengan sebab
itu, saya pernah mengalami masa-masa menyenangkan yang akan saya simpan dengan
baik dalam memori terbaik sepanjang hayat. Sebagai anak kampung, sepulang
sekolah, saya akan ikut dengan ibu dan bapak menuju ke ladang. Ladang yang tak
seberapa besar warisan dari nenek, ditanami dengan beragam tanaman jangka
pendek seperti jagung atau kacang.
Setiba
di ladang, saya akan bermain hingga puas. Terutama jika musim hujan, di samping
saung, ada selokan kecil yang sengaja dibuat bapak sebagai sumber air untuk
menyiram tanaman. Di situlah saya akan bermain air atau perahu yang terbuat
dari dedaunan kering sekitar ladang.
Tidak ada rasa bosan atau lelah. Saya akan berlari keliling ladang dan memanjat
pohon jambu klutuk yang tumbuh di samping selokan air tadi. Ibu maupun Bapak
yang sibuk dengan mengurus tanaman di ladang, tidak akan menegur saya, bahkan
menyuruh tidur siang di saung. Toh, kalau capek bakal tidur sendiri, mungkin
itu yang dipikirkan kedua orang tua saya.
Pernah
satu ketika, kakak perempuan mengajak saya diam-diam memetik buah cokelat di
kebun nenek. Saya akan mendapat teguran keras jika ketahuan mencicipi buah
cokelat. Kata ibu, saya masih terlalu kecil dan tidak boleh makan sembarangan,
apalagi cokelat yang belum diolah. Karena hal yang akan kami lakukan adalah
larangan, jadinya saya dan kakak berangkat ke kebun cokelat tanpa sepengetahuan
Ibu. Saya selalu penasaran dengan buah cokelat yang kata orang-orang, rasanya
manis-asam.
Setiba
kami di kebun cokelat, Nampak oleh saya beberapa buah cokelat yang sudah matang
bergelantungan di pohonnya. Ini tentunya menyenangkan, karena saya bebas
mencicipinya sesuka hati. Akhirnya saya memberanikan diri untuk memetiknya.
Tekstur kulitnya yang lumayan keras, membuat saya butuh pisau untuk membukanya.
Dan setelah buah cokelat terbelah, isinya berwarna putih, seperti manggis.
Tidak sabar mencicipinya, saya comot beberapa biji dan memasukkannya dalam
mulut. Ternyata apa yang saya dengar selama ini tentang rasa buah cokelat itu
bukan hoax. Rasanya manis dan asam. Membuat
saya ketagihan saat itu, meski ada rasa khawatir jika Ibu tahu.
Puas
menikmati buah cokelat yang kakak perempuan dan saya lakukan, kami putuskan
untuk kembali ke ladang. Berpura-pura main perahu dan air di selokan agar tidak
ketahuan Ibu. Bisa marah besar beliau jika tahu kelakuan anaknya sore itu. Apa
yang saya khawatirkan tidak terjadi, Ibu tidak marah kepada saya dan kakak. Walaupun
saya tahu, ibu beliau hanya berpura-pura tidak tahu, sekadar membahagiakan hati
anak-anaknya. Ah, Ibu selalu istimewa. Saya rindu padamu, Bu.
#OWOPPekan2
#OWOPApril2019
#RumbelMenulisIPS
#RumbelMenulisSulawesi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar