Senin, 15 April 2019

Berburu Buah Cokelat


Terlahir sebagai anak kampung, menjadi kesyukuran besar dalam hidup saya. Karena dengan sebab itu, saya pernah mengalami masa-masa menyenangkan yang akan saya simpan dengan baik dalam memori terbaik sepanjang hayat. Sebagai anak kampung, sepulang sekolah, saya akan ikut dengan ibu dan bapak menuju ke ladang. Ladang yang tak seberapa besar warisan dari nenek, ditanami dengan beragam tanaman jangka pendek seperti jagung atau kacang. 

Setiba di ladang, saya akan bermain hingga puas. Terutama jika musim hujan, di samping saung, ada selokan kecil yang sengaja dibuat bapak sebagai sumber air untuk menyiram tanaman. Di situlah saya akan bermain air atau perahu yang terbuat dari  dedaunan kering sekitar ladang. Tidak ada rasa bosan atau lelah. Saya akan berlari keliling ladang dan memanjat pohon jambu klutuk yang tumbuh di samping selokan air tadi. Ibu maupun Bapak yang sibuk dengan mengurus tanaman di ladang, tidak akan menegur saya, bahkan menyuruh tidur siang di saung. Toh, kalau capek bakal tidur sendiri, mungkin itu yang dipikirkan kedua orang tua saya. 

Pernah satu ketika, kakak perempuan mengajak saya diam-diam memetik buah cokelat di kebun nenek. Saya akan mendapat teguran keras jika ketahuan mencicipi buah cokelat. Kata ibu, saya masih terlalu kecil dan tidak boleh makan sembarangan, apalagi cokelat yang belum diolah. Karena hal yang akan kami lakukan adalah larangan, jadinya saya dan kakak berangkat ke kebun cokelat tanpa sepengetahuan Ibu. Saya selalu penasaran dengan buah cokelat yang kata orang-orang, rasanya manis-asam. 

Setiba kami di kebun cokelat, Nampak oleh saya beberapa buah cokelat yang sudah matang bergelantungan di pohonnya. Ini tentunya menyenangkan, karena saya bebas mencicipinya sesuka hati. Akhirnya saya memberanikan diri untuk memetiknya. Tekstur kulitnya yang lumayan keras, membuat saya butuh pisau untuk membukanya. Dan setelah buah cokelat terbelah, isinya berwarna putih, seperti manggis. Tidak sabar mencicipinya, saya comot beberapa biji dan memasukkannya dalam mulut. Ternyata apa yang saya dengar selama ini tentang rasa buah cokelat itu bukan hoax. Rasanya manis dan asam. Membuat saya ketagihan saat itu, meski ada rasa khawatir jika Ibu tahu. 

Puas menikmati buah cokelat yang kakak perempuan dan saya lakukan, kami putuskan untuk kembali ke ladang. Berpura-pura main perahu dan air di selokan agar tidak ketahuan Ibu. Bisa marah besar beliau jika tahu kelakuan anaknya sore itu. Apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, Ibu tidak marah kepada saya dan kakak. Walaupun saya tahu, ibu beliau hanya berpura-pura tidak tahu, sekadar membahagiakan hati anak-anaknya. Ah, Ibu selalu istimewa. Saya rindu padamu, Bu. 

#OWOPPekan2
#OWOPApril2019
#RumbelMenulisIPS
#RumbelMenulisSulawesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar