Senin, 29 April 2019

MEDIA SOSIALKU, PISAU BERMATA DUA


Media sosial sudah bergeser menjadi kebutuhan primer masyarakat millennial saat ini. Bagaimana tidak, dimana-mana, setiap orang akan terlihat dengan androidnya, baik itu pertemuan formal maupun tidak formal. Bahkan tidak jarang di dalam kelas yang sedang berlangsung kegiatan ajar-mengajar, siswa-mahasiswa masih sempat tercuri perhatiannya dengan gadget mereka. Dengan lincah, mereka akan sembunyi-sembunyi dari guru atau dosennya membuka hp-nya. Apalagi jika bukan membuka media sosial, sekadar mengecek pesan yang masuk via whatsapp atau notifikasi facebook dan lain-lain.
           Okay, tidak bisa dinafikkan bahwa ketergantungan seseorang terhadap media sosial sudah sangat tinggi. Segala informasi dengan mudah didapatkan melalui media sosial. Mulai dari informasi yang bermanfaat hingga berita hoax yang merisaukan masyarakat. Secara pribadi, saya merasa cukup diuntungkan dengan media sosial. Tergantung pada tingkat kebutuhan, meski yang paling sering saya gunakan sebatas whatsapp, facebook, dan youtube.
Mari kita retas manfaat yang saya dapatkan dari masing-masing jenis media sosial yang saya ikuti.

Whatsapp. Ini badalah salah satu jenis media sosial yang paling banyak digunakan saat ini. Mulai dari percakapan pribadi, grup, dan kelas virtual banyak dilakukan melalui aplikasi ini. Bahkan, rumah belajar menulis yang sedang saya ikuti saat ini awal mulanya saya tahu melalui whatsapp. Berbagi file berupa foto maupun dokumen bisa dibagikan melalui whatsapp.
2.     
          Facebook. Ini adalah salah satu aplikasi yang lumayan menghibur bagi saya. Meski secara pribadi saya tidak doyan menulis status di dinding facebook karena alasan tertentu (hehe), saya dengan mudah mendapatkan informasi dari kerabat jauh, atau berita dari berbagai belahan dunia melalui facebook. Aplikasi ini cenderung lebih terbuka dalam artian gampang diakses dibanding whatsapp. Kalau dengan whatsapp, kita hanya bisa berbagi story dengan kontak teman yang juga menggunakan aplikasi yang sama. Tapi, dengan facebook, kita bisa mencari tahu kabar kerabat lainnya meski daftar namanya tidak ada di kontak handphone kita. Ini bukan berarti bahwa saya doyan stalking orang lain, ya. :D
3.    

         Youtube. Ini adalah aplikasi yang menggantikan fungsi tv. Kelebihannya banyak, mulai dari berita gosip hingga tutorial mudah di dapatkan melalui aplikasi ini. Saya biasanya buka youtube untuk membuka tutorial sebuah system untuk kebutuhan kerja. Aplikasi ini bisa dikatakan lumayan menyerap kuota yang banyak. Tapi bukan itu alasan mengapa saya jarang membuka youtube. Hanya saja kepentingan saya terhadap youtube memang tidak terlalu banyak.

Dari banyaknya manfaat dari media sosial, tidak jarang juga media sosial menjadi sumber kejahatan di dunia maya maupun dunia nyata. Banyaknya kasus penculikan dan penipuan, berawal dari media sosial. Sebagai pernyataan penutup, saya mau berbagi dengan teman-teman bahwa saat kita memutuskan untuk menggunakan media sosial, saat itu juga kita harus jeli dan berhati-hati dengannya. Tetap waspada, ya.  

#OWOPPekan4
#OWOPApril2019
#RumbelMenulisIPS
#RumbelMenulisSulawesi

Senin, 15 April 2019

Berburu Buah Cokelat


Terlahir sebagai anak kampung, menjadi kesyukuran besar dalam hidup saya. Karena dengan sebab itu, saya pernah mengalami masa-masa menyenangkan yang akan saya simpan dengan baik dalam memori terbaik sepanjang hayat. Sebagai anak kampung, sepulang sekolah, saya akan ikut dengan ibu dan bapak menuju ke ladang. Ladang yang tak seberapa besar warisan dari nenek, ditanami dengan beragam tanaman jangka pendek seperti jagung atau kacang. 

Setiba di ladang, saya akan bermain hingga puas. Terutama jika musim hujan, di samping saung, ada selokan kecil yang sengaja dibuat bapak sebagai sumber air untuk menyiram tanaman. Di situlah saya akan bermain air atau perahu yang terbuat dari  dedaunan kering sekitar ladang. Tidak ada rasa bosan atau lelah. Saya akan berlari keliling ladang dan memanjat pohon jambu klutuk yang tumbuh di samping selokan air tadi. Ibu maupun Bapak yang sibuk dengan mengurus tanaman di ladang, tidak akan menegur saya, bahkan menyuruh tidur siang di saung. Toh, kalau capek bakal tidur sendiri, mungkin itu yang dipikirkan kedua orang tua saya. 

Pernah satu ketika, kakak perempuan mengajak saya diam-diam memetik buah cokelat di kebun nenek. Saya akan mendapat teguran keras jika ketahuan mencicipi buah cokelat. Kata ibu, saya masih terlalu kecil dan tidak boleh makan sembarangan, apalagi cokelat yang belum diolah. Karena hal yang akan kami lakukan adalah larangan, jadinya saya dan kakak berangkat ke kebun cokelat tanpa sepengetahuan Ibu. Saya selalu penasaran dengan buah cokelat yang kata orang-orang, rasanya manis-asam. 

Setiba kami di kebun cokelat, Nampak oleh saya beberapa buah cokelat yang sudah matang bergelantungan di pohonnya. Ini tentunya menyenangkan, karena saya bebas mencicipinya sesuka hati. Akhirnya saya memberanikan diri untuk memetiknya. Tekstur kulitnya yang lumayan keras, membuat saya butuh pisau untuk membukanya. Dan setelah buah cokelat terbelah, isinya berwarna putih, seperti manggis. Tidak sabar mencicipinya, saya comot beberapa biji dan memasukkannya dalam mulut. Ternyata apa yang saya dengar selama ini tentang rasa buah cokelat itu bukan hoax. Rasanya manis dan asam. Membuat saya ketagihan saat itu, meski ada rasa khawatir jika Ibu tahu. 

Puas menikmati buah cokelat yang kakak perempuan dan saya lakukan, kami putuskan untuk kembali ke ladang. Berpura-pura main perahu dan air di selokan agar tidak ketahuan Ibu. Bisa marah besar beliau jika tahu kelakuan anaknya sore itu. Apa yang saya khawatirkan tidak terjadi, Ibu tidak marah kepada saya dan kakak. Walaupun saya tahu, ibu beliau hanya berpura-pura tidak tahu, sekadar membahagiakan hati anak-anaknya. Ah, Ibu selalu istimewa. Saya rindu padamu, Bu. 

#OWOPPekan2
#OWOPApril2019
#RumbelMenulisIPS
#RumbelMenulisSulawesi

Minggu, 31 Maret 2019

Memasak Itu Menyenangkan

Rumah adalah istana yang menyenangkan bagi saya. Di sanalah tempat bertumbuh, mendapatkan kasih sayang sekligus sekolah pertama yang harus saya lewati. Kalau ditanya, gurunya siapa? Jawabannya Ayah, Ibu, dan saudara-saudarayang lain. Lahir sebagai bungsu, sudah tentu limpahan kasih sayang tidak berkurang sedikitpun. Meski begitu, kami bersaudara tidak ada yang mendapat keistimewaan tersendiri dari orang tua. Semua anak mendapat perlakuan yang sama. Dan yang akhirnya saya pahami, kami dididik untuk mandiri. Hal ini sangat terasa ketika pertama kali saya melanjutkan kuliah  setelah SMA. Hidup jauh dari orang tua membuat saya harus mampu bertahan di kampung orang. Termasuk melakukan pekerjaan rumah sendiri, seperti membersihkan, mencuci piring, menyapu, mengepel, bahkan memperbaiki perabotan yang rusak. Untuk memperbaiki genteng yang bocor atau menggali sumur, bukan keahlian saya ya. :D
  Di antara semua pekerjaan yang saya kerjakan, ada satu pekerjaan yang saya senangi. Memasak. Entah mengapa pekerjaan ini mampu menghipnotis saya untuk betah di dapur selama berjam-jam. Berhadapan dengan pisau, kompor, atau bahan makanan yang siap untuk diolah. Memasak adalah paduan seni dan keahlian. Meski kita memiliki keahlian di dapur, tanpa sentuhan seni, hasil masakan menjadi hambar. Begitupun sebaliknya, punya jiwa seni tapi tidak tahu memasak, ya berarti tidak akan ada masakan yang jadi. :D
Satu hal penting yang menjadi alasan saya mencintai aktivitas ini, karena memasak itu adalah pertaruhan mood (lebay juga bahasanya) :D Ketika kita memasak dengan mood yang kurang baik, lagi bete misalnya, masakan itu mampu membaca kondisi hati kita. Ini  yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi itulah kenyataannya. Hahaa. Beda jika kita memasak dengan kondisi hati yang sedang bahagia, hasilnya pun bisa membahagiakan orag-orang yang mencicipinya. Ada kepuasan tersendiri jika orang—orang senang dengan apa yang  sudah kita lakukan.
Karena kebiasaan hidup mandiri ini pulalah sehingga saat momen pulang kampung, dapur menjadi sasaran empuk saya ketika di rumah. Apalagi ditambah dengan peralatan yang lebih lengkap dibanding di tempat perantauan. Tentunya hal ini akan lebih menantang lagi untuk menghasilkan sebuah masakan yang bukan lagi ala anak kos-kosan. :D
  Jadi, apapun aktivitas rumah yang kamu senangi, niatkanlah selalu untuk membahagiakan orang-orang di sekitarmu. Jangan lupa jadikan sebagai ladang pahala. Aamiin. Selamat bahagia. (

£OWOPPekan4
£OWOPMaret2019
£RumbelMenulisIPS
£RumbelMenulisSulawesi

Jumat, 17 Agustus 2018

Ternyata Seperti Itu Rasanya

Tulisan ini saya gores setelah selesai mengetik satu cerpen. Bingung juga apakah itu layak disebut cerpen atau tidak, yang jelas tulisan yang saya buat itu tembus 15 halaman ukuran kertas A4. :D

Ternyata seperti itu rasanya menulis. Tidak semudah membaca satu novel best seller ratusan halaman lalu mereview-nya, guys. Ha ha..
Sebagai penulis pemula, semua serba kaku. Takut ceritanya tidak menarik pembaca, khawatir bahasanya membosankan karena miskin kosa kata, atau cemas karakter tokoh yang tidak hidup. Huuff, butuh perjuangan untuk melawan itu semua.

Beginilah nasib penulis pemula, banyak godaan karena belum terbiasa bermain tinta. Tapi yang pasti, siapapun yang mulai memilih jalan untuk berkarya dengan pena seperti itu sudah pasti memiliki tantangan.
Tantangan yang paling besar bukan karena tulisan kita dihujat pembaca atau ditolak redaksi. Bukan, bukan itu masalahnya.
Tantangan terbesar itu lahir dari diri sendiri. Mencoba menguasai diri dan berani keluar dari zona nyaman. Terus belajar untuk move up dan tetap menjalankan misi. Ceileeh..

Membiasakan diri untuk terus belajar dan tetap membaca sudah menjadi rahasia umum untuk menaikkan kualitas tulisan kita.
Begitu banyak tips dan trik menulis yang dibagikan google, pintu ajaib super canggih yang saat ini masih menjadi favorite banyak orang untuk mencari informasi. Tapi, kembali lagi pada diri kita, keputusan apakah ide yang sudah matang di otak kita hanya menjadi sebatas imajinasi ataukah tertuang di atas kertas menjadi sebuah karya, itu sebuah pilihan.
Setelah memutuskan untuk menuliskannya, ujian selanjutnya adalah bagaimana menjadikan ide itu sebagai tulisan yang menarik. Untuk itu kita butuh menyusun strategi, mulai dari mapping atau outline, konsistensi menulis, hingga cara menyelipkan nilai dalam sebuah tulisan. Menantang banget, bukan? He he..

Setelah melewati itu semua, saya yakin kamu akan sependapat dengan saya untuk berkata,
ternyata seperti itu rasanya. :D :D



Jumat, 30 Maret 2018

CINTA UNTUK MARYAM



Braakk!! Terdengar suara buku berhamburan dari rak yang telah tersusun rapi. “Maryaamm! pelan-pelan. Tuh kan bukunya berantakan. Kalau mau ambil barang bilang dulu sama Kakak atau Ibu!” teriak Silvi kaget yang tengah asyik dengan majalahnya. 
“Sini, sayang… biar Ibu yang bantu.” Ibu yang muncul dari arah dapur berusaha menenangkan Maryam yang masih duduk tergugup menyadari kesalahannya pagi itu. Di rumah itu hanya ibu yang paling memahami dan perhatian pada Maryam, gadis mungil yang masih berumur 10 tahun. Tapi itu tidak berlaku bagi Silvi, meskipun Maryam sebenarnya adalah anak kandungnya, buah dari pernikahannya dengan mas Bram. Sejak Silvi mengandung Maryam 5 bulan, Mas Bram menghilang tanpa kabar berita lagi. Sekarang, semua hal tentang Mas Bram sudah dilupakan oleh Silvi, bahkan harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya itu sudah ia buang jauh-jauh.
            Silvi melahirkan Maryam secara caesar, hingga saat ini ia masih sulit menerima kenyataan sebagai single parent jika saja bukan ibu yang selalu ada di sampingnya menyemangati untuk bertahan menghadapi ujian hidup. Ibu adalah ibu bagi Silvi dan Maryam. Silvi tidak ingin dipanggil ibu oleh Maryam, cukup dengan panggilan kakak. Silvi tidak ingin Maryam tahu bahwa ia adalah ibu kandungnya. Teman-teman kantor barunya saat ini juga tidak tahu status dirinya. Image yang ia bangun hingga jenjang kariernya yang sekarang tidak ingin ia hancurkan hanya karena kehadiran Maryam. Dan Mas Bram? Hanya luka yang ia tinggalkan untuk Silvi.  

“Kak, Maryam ke sekolah dulu.” begitu berhati-hati ia pamit pada Silvi yang baru saja membentaknya. “Hmm..!” Silvi menyodorkan tangannya pada Maryam yang ingin menyalaminya tanpa beralih pandang dari majalah miliknya.
Ibu menatap tingkah cuek Silvi dari arah dapur. Ada rasa perih di hatinya jika setiap kali melihat perlakuan Silvi kepada cucu kesayangannya itu.
“Nak, kapan kamu mau mengubah sikapmu pada Maryam? Kasihan dia, masih kecil tapi kamu bentak terus. Gusti Allah sayang sama kamu dengan ujianmu saat ini, Cobalah membuka hati untuk menerima keberadaannya, Nak.” bujuk ibu begitu lembut pada anak semata wayangnya.
“Akan ada waktunya, Bu. Saat ini Silvi belum bisa.” jawabnya datar.
Maryam bagi Silvi adalah beban yang terus mengikutinya. Silvi ingin bebas seperti teman-teman sekantornya yang lain. Raya, Shelly, Iin. Ah, mereka wanita-wanita single itu begitu menikmati masa mudanya. Tanpa beban, mau kemanapun begitu bebas. Silvi seperti menyesal telah menerima lamaran Mas Bram, pemilik nama lengkap Ibrahim yang saat ini keberadaannya entah dimana.
***
“ Mbak Silvi lusa jadi berangkat ke Medan, kan? Ciee.. yang ditemenin sama pak bos kece… “ goda Shelly sambil memicingkan matanya pada Silvi.
“ Ah, kamu. Di sana kan cuma 2 hari mengisi training untuk karyawan baru, habis itu balik lagi ke sini.” ucapnya membalas godaan Shelly.
“ Mbak, apa sih yang kurang dari pak Irwan? Udah tampan, kariernya bagus, kurang apalagi, hayo? Kalau pak Irwan ngelamar Mbak, Mbak Silvi gak bakal nolak, kan?” pertanyaan Shelly kali ini membuatnya semakin salah tingkah. Yang ditanya tak menjawab. Tapi ia selalu berusaha mengalihkan perhatian Shelly.
“Shelly sayang, tugas kamu untuk market plan bulan depan udah kelar belum?” tangkas Silvi berhasil mengalihkan pertanyaan Shelly, teman seruangannya yang hampir tiap hari datang menggoda dirinya.            
Silvi tidak membohongi diri, sosok Irwan begitu perfect untuknya. Seorang direktur muda yang digandrungi karyawan-karyawan wanitanya. Jiwa leader dan kharisma Irwan membuat ia semakin diidolakan di perusahaannya. Memangnya pak Irwan dan keluarganya mau menerima aku yang berstatus janda anak satu? Masa laluku? Ah, rasanya tidak mungkin. Silvi menarik napas panjang memandangi monitor meja kerjanya yang belum disentuhnya sama sekali sejak Shelly menggodanya tadi. Seketika, bayangan Ibu dan Maryam seketika memenuhi pelupuk matanya.  
***
Malam sudah sangat larut. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang di jalan menuju rumah Silvi. Kerja lembur di kantor tadi membuatnya begitu kelelahan. Esok, ia harus berangkat ke Medan.
“Udah nyampe, Mbak.” suara supir taksi menyadarkan dirinya yang nyaris tertidur. Silvi tak berani memejamkan matanya, ia terus mawas diri sepanjang perjalanan. Terlalu banyak kasus kriminal di kota besar membuatnya begitu berhati-hati memilih angkutan umum.
“Oh, iya. Kembaliannya ambil aja, Pak.” ucapnya tidak lama berbasa-basi dengan supir taksi. Ia sudah sangat ingin merebahkan badannya. Diliriknya jam tangan, pukul 02.00 dini hari.
“Sudah pulang, Nak? Mau ibu buatkan teh hangat?” suara Ibu terdengar lembut menyambut kedatangannya.
“Tidak usah bu. Nanti Silvi yang buat sendiri. Kenapa Ibu belum tidur? Sekarang sudah sangat larut, Bu.” ia bertanya balik.
“Tadi Ibu dan Maryam sholat malam, Nak. Belakangan ini Maryam lagi semangat latihan sholat malam. Berdoanya pun begitu khusyuk, Ibu bangga punya cucu seperti dia. Sekarang ia sudah tidur di kamarnya” jawab Ibu.
Entah mengapa perasaan Silvi tercampur aduk dengan ucapan ibu barusan. Sholat malam? Kapan aku terakhir melakukannya? Sholat lima waktu saja masih sering bolong-bolong. Acara shopping bareng Iin, Shelly, atau Raya lebih terjadwal rapi daripada sholatnya. Tak terasa air matanya jatuh.
***
Sepulang sekolah, begitu selesai melepas sepatunya. Maryam berlari memeluk Ibu. “Ibuuu… Maryam dapat nilai 100 tadi dari Pak guru. Maryam sudah bisa praktek bacaan sholat! ucapnya sangat senang.
“Maryam, kalau lepas sepatu langsung disimpan di raknya, dong.” ucap Silvi jutek yang baru saja keluar kamar.
Maryam memandang Silvi lamat-lamat, sedih menggelayut di pelupuk matanya. Selalu ada jarak yang ingin ia tepis setiap memandang wanita itu. Kasih sayang atau rasa yang ia sendiri belum pahami senantiasa menghampiri dirinya saat melihat wajah kakaknya.
“Iya, kak!” jawab Maryam patuh. Ibu melihat tingkah Silvi yang dingin, sedingin cintanya yang telah ia tanggalkan sejak Bram pergi.
***
Setangkai bunga mawar putih tergeletak di atas meja kerja Silvi dari pengirim atas nama Irwan.
Dag.. dig.. dug perasaan Silvi tak karuan. Pak Irwan menyukaiku? Ini bukan mimpi kan? Wajahnya tersenyum dan merona tersipu malu. Untung saja Shelly tidak melihatnya, jika iya sudah tentu dia akan menggodainya sepanjang hari. Begitupun dengan hari-hari selanjutnya. Tiba-tiba hp-nya berbunyi, rupanya telepon dari ibu.
“Nak, Maryam jatuh di sekolah. Kepalanya berdarah, Maryam masih pingsan. Sekarang ada di UGD.” suara Ibu bergetar dan terdengar begitu panik.
Baru saja hati Silvi bahagia dengan kiriman mawar putih, kini ia syok mendengar pemberitahuan itu dari Ibunya. Silvi bingung, ia putuskan bergegas menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju RS, hujan mengguyur kota. Silvi memandang jalanan basah yang dilaluinya, butuh 45 menit lagi ia akan tiba di tempat tujuan. Cemasnya bertambah saat harus melewati kemacetan lalu lintas. Entah mengapa perasaannya secemas ini. Memorinya terputar pada kenangan 10 tahun yang lalu. Betapa bahagia hatinya saat ia akan menelpon suaminya untuk memberi tahu bahwa dirinya hamil. Rasa haru yang sulit diungkapkan itu ingin ia bagikan kepada laki-laki pilihannya. Namun, yang dihubungi tak kunjung menjawab panggilan. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ia terus menghubungi Bram. Sanak keluarga  pun  kehilangan kontak dan tidak memberi kabar. Bahagia yang ia rasakan terkikis sedikit demi sedikit. Rasa cinta itu kini menjadi benci. Benci yang ia ingin lepaskan di antara guyuran air hujan yang menderas di luar jendela mobil yang mengantarnya ke RS. Hatinya menangis, ujian ini belum sanggup ia lewati. Dan Maryam buah hatinya yang tidak tahu apa-apa harus menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya selama ini.
***
Sudah dua hari Maryam dirawat, kondisinya koma. Silvi dan Ibu secara bergantian menjaganya. Sejak Maryam di rawat entah mengapa sikap Silvi berubah. Perasaan haru dan kasih sayangnya muncul setiap kali memandangi wajah mungil anak tak berdosa yang belum sadarkan diri itu. Nalurinya sebagai Ibu tidak bisa ia ditepis. Air matanya terus mengalir. Rasa bersalah menghampirinya. Rasa itu jugalah yang membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Maryam saat ini.
Silvi sudah izin ke kantor untuk tidak masuk kerja. Kesehatan Maryam jauh lebih penting bagi dirinya. Kini ia tak bisa membohongi diri. Ada rasa bersalah atas perlakuannya selama ini pada Maryam. Maryam hanya seorang anak yang bahkan tak meminta untuk dilahirkan dari rahimnya. Air mata Silvi kembali bercucuran begitu deras. Ia memeluk Ibu erat yang duduk di sampingnya, memohon maaf atas kesalahannya selama ini. Silvi berjanji, ia akan berubah untuk menebus segala cinta yang pernah hilang selama ini untuk anaknya, Maryam. 
***

Makassar, 30 Maret 2018

___ Asma’ Dzakiyah___

#RumbelMenulis
#IIPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan
     

   

Senin, 19 Februari 2018

Perjalanan Yang Menyenangkan

Bismillah...

Hari Ahad, 18 Februari 2018 menjadi salah satu hari yang menyenangkan bagi saya. Tanggal ini adalah salah satu yang saya nantikan di bulan ini. Bedah buku yang dilaksanakan di Gedung Kesenian oleh salah satu komunitas remaja di Palopo tampaknya begitu sayang jika dilewatkan.
Kali aja dapat tips cara menulis yang baik dari narasumbernya, he he.. kan lumayan dapat ilmu baru.

Hari ini jadwal olahraga pagi sepertinya harus dipending. Saya tidak ingin menjadi peserta bedah buku yang telat dan harus bersabar mendapat seat di pojokan gedung karena tidak kebagian kursi di bagian depan. Kali ini saya harus menjadi peserta yang on time.
Setelah tiba di tempat acara, masyaa Allah ternyata ruangan sudah penuh. Antusias pelajar dan mahasiswa begitu tinggi hingga gedung yang muat 500-an peserta penuh seperti ini.
Banyak ilmu yang saya dapatkan dari acara bedah buku ini hingga akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi satu tempat untuk bersantai sembari membaca novel.
Sudah menjadi kebiasaan beberapa bulan ini,setiap keluar, saya akan sisipkan satu buku bacaan di dalam tas.

Setibanya saya di tempat tujuan, ternyata saya menjadi pengunjung pertama. Acara me time kali ini nyaris sempurna. Suasana yang tenang ditemani dengan sebuah novel dan semangkuk es buah sudah lebih dari cukup membuat kepala yang panas karena harus banyak berpikir selama sepekan belakangan akhirnya bisa rileks seperti ini.

Setelah menyelesaikan bacaan, akhirnya saya membuat sebuah outline cerpen untuk bulan ini. Iya, saat suasana hati sedang bahagia, kucuran ide begitu mudah dituangkan. He he..
Dan taraa, jadilah satu outline cerpen baru.

Saya pun beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju pasar untuk membeli bahan masakan hari ini. Weekend adalah moment yang pas menyalurkan semua hobby. He.. he..
Sebelum matahari tergelincir di arah barat, saya putuskan untuk kembali ke rumah.

Perjalanan hari sudah berhasil membuat saya bahagia.. :)

Jumat, 19 Januari 2018

Perkenalan Matrikulasi

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh… Perkenalkan nama saya Wahyuni, biasanya dipanggil Uni atau Yuni. Lahir di kabupaten Enrekang tanggal 19 Juni 1989. Kegiatan saya saat ini adalah mengajar di kampus di kota Palopo. Selain mengajar, saya juga terus belajar menulis karena salah satu impian saya adalah menjadi seorang penulis. Pertama kali mengenal Institute Ibu Profesional di tahun 2016 (kalau gak salah ya, he he) melalui seorang teman kampus. Beliau melihat minat saya yang begitu besar mempelajari ilmu parenting sehingga sahabat saya itu menyarankan untuk gabung di grup IIP Susel. Waktu itu WAG IIP belum ada kelas matrikulasinya, masih sebatas diskusi harian. Yang paling ramai itu kalau hari jumat, acara market day. Masyaa Allah seketika gallery whatsapp full dengan gambar jualan yang beragam macamnya. Awalnya saya tertarik di matrikulasi batch 1 tapi waktu itu kegiatan kampus juga sedang padat sehingga saya menunggu batch 2, walaupun ujung-ujungnya baru kesampaian di batch 5 ini. He he he.. Alasan saya gabung di IIP karena saya ingin belajar lebih jauh tentang dunia parenting. Meskipun saat gabung dan sampai hari ini masih berstatus single tapi ilmu ini penting bagi saya. Preventif selalu jauh lebih baik daripada kuratif. Mempersiapkan diri dari awal sebelum berumah-tangga lebih bijak menurut saya ketimbang setelah menikah baru belajar semuanya dari garis start. J    Saya salut dengan program berkelanjutan di IIP, orientasinya jelas dengan adanya pembelajaran seperti matrikulasi-bunda sayang dan sebagainya yang tentunya membuat kita lebih tertantang untuk betul-betul belajar menjadi calon ibu atau ibu yang professional. Sukses selalu buat IIP.     Syukron jazakunallahu khayran