Tulisan ini saya gores setelah selesai mengetik satu cerpen. Bingung juga apakah itu layak disebut cerpen atau tidak, yang jelas tulisan yang saya buat itu tembus 15 halaman ukuran kertas A4. :D
Ternyata seperti itu rasanya menulis. Tidak semudah membaca satu novel best seller ratusan halaman lalu mereview-nya, guys. Ha ha..
Sebagai penulis pemula, semua serba kaku. Takut ceritanya tidak menarik pembaca, khawatir bahasanya membosankan karena miskin kosa kata, atau cemas karakter tokoh yang tidak hidup. Huuff, butuh perjuangan untuk melawan itu semua.
Beginilah nasib penulis pemula, banyak godaan karena belum terbiasa bermain tinta. Tapi yang pasti, siapapun yang mulai memilih jalan untuk berkarya dengan pena seperti itu sudah pasti memiliki tantangan.
Tantangan yang paling besar bukan karena tulisan kita dihujat pembaca atau ditolak redaksi. Bukan, bukan itu masalahnya.
Tantangan terbesar itu lahir dari diri sendiri. Mencoba menguasai diri dan berani keluar dari zona nyaman. Terus belajar untuk move up dan tetap menjalankan misi. Ceileeh..
Membiasakan diri untuk terus belajar dan tetap membaca sudah menjadi rahasia umum untuk menaikkan kualitas tulisan kita.
Begitu banyak tips dan trik menulis yang dibagikan google, pintu ajaib super canggih yang saat ini masih menjadi favorite banyak orang untuk mencari informasi. Tapi, kembali lagi pada diri kita, keputusan apakah ide yang sudah matang di otak kita hanya menjadi sebatas imajinasi ataukah tertuang di atas kertas menjadi sebuah karya, itu sebuah pilihan.
Setelah memutuskan untuk menuliskannya, ujian selanjutnya adalah bagaimana menjadikan ide itu sebagai tulisan yang menarik. Untuk itu kita butuh menyusun strategi, mulai dari mapping atau outline, konsistensi menulis, hingga cara menyelipkan nilai dalam sebuah tulisan. Menantang banget, bukan? He he..
Setelah melewati itu semua, saya yakin kamu akan sependapat dengan saya untuk berkata,
ternyata seperti itu rasanya. :D :D
Jumat, 17 Agustus 2018
Jumat, 30 Maret 2018
CINTA UNTUK MARYAM
Braakk!!
Terdengar suara buku berhamburan dari rak yang telah tersusun rapi. “Maryaamm!
pelan-pelan. Tuh kan bukunya berantakan. Kalau mau ambil barang bilang dulu
sama Kakak atau Ibu!” teriak Silvi kaget yang tengah asyik dengan majalahnya.
“Sini, sayang… biar
Ibu yang bantu.” Ibu yang muncul dari arah dapur berusaha menenangkan Maryam
yang masih duduk tergugup menyadari kesalahannya pagi itu. Di rumah itu hanya
ibu yang paling memahami dan perhatian pada Maryam, gadis mungil yang masih
berumur 10 tahun. Tapi itu tidak berlaku bagi Silvi, meskipun Maryam sebenarnya
adalah anak kandungnya, buah dari pernikahannya dengan mas Bram. Sejak Silvi
mengandung Maryam 5 bulan, Mas Bram menghilang tanpa kabar berita lagi.
Sekarang, semua hal tentang Mas Bram sudah dilupakan oleh Silvi, bahkan
harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya itu sudah ia buang
jauh-jauh.
Silvi melahirkan Maryam secara caesar, hingga saat ini ia masih sulit
menerima kenyataan sebagai single parent
jika saja bukan ibu yang selalu ada di sampingnya menyemangati untuk bertahan
menghadapi ujian hidup. Ibu adalah ibu bagi Silvi dan Maryam. Silvi tidak ingin
dipanggil ibu oleh Maryam, cukup dengan panggilan kakak. Silvi tidak ingin
Maryam tahu bahwa ia adalah ibu kandungnya. Teman-teman kantor barunya saat ini
juga tidak tahu status dirinya. Image
yang ia bangun hingga jenjang kariernya yang sekarang tidak ingin ia hancurkan
hanya karena kehadiran Maryam. Dan Mas Bram? Hanya luka yang ia tinggalkan
untuk Silvi.
“Kak, Maryam ke
sekolah dulu.” begitu berhati-hati ia pamit pada Silvi yang baru saja
membentaknya. “Hmm..!” Silvi menyodorkan tangannya pada Maryam yang ingin
menyalaminya tanpa beralih pandang dari majalah miliknya.
Ibu menatap tingkah
cuek Silvi dari arah dapur. Ada rasa perih di hatinya jika setiap kali melihat
perlakuan Silvi kepada cucu kesayangannya itu.
“Nak, kapan kamu mau
mengubah sikapmu pada Maryam? Kasihan dia, masih kecil tapi kamu bentak terus.
Gusti Allah sayang sama kamu dengan ujianmu saat ini, Cobalah membuka hati
untuk menerima keberadaannya, Nak.” bujuk ibu begitu lembut pada anak semata
wayangnya.
“Akan ada waktunya, Bu.
Saat ini Silvi belum bisa.” jawabnya datar.
Maryam bagi Silvi
adalah beban yang terus mengikutinya. Silvi ingin bebas seperti teman-teman
sekantornya yang lain. Raya, Shelly, Iin. Ah, mereka wanita-wanita single itu
begitu menikmati masa mudanya. Tanpa beban, mau kemanapun begitu bebas. Silvi
seperti menyesal telah menerima lamaran Mas Bram, pemilik nama lengkap Ibrahim
yang saat ini keberadaannya entah dimana.
***
“
Mbak Silvi lusa jadi berangkat ke Medan, kan? Ciee.. yang ditemenin sama pak
bos kece… “ goda Shelly sambil memicingkan matanya pada Silvi.
“ Ah, kamu. Di sana
kan cuma 2 hari mengisi training untuk karyawan baru, habis itu balik lagi ke
sini.” ucapnya membalas godaan Shelly.
“ Mbak, apa sih yang
kurang dari pak Irwan? Udah tampan, kariernya bagus, kurang apalagi, hayo?
Kalau pak Irwan ngelamar Mbak, Mbak Silvi gak bakal nolak, kan?” pertanyaan
Shelly kali ini membuatnya semakin salah tingkah. Yang ditanya tak menjawab.
Tapi ia selalu berusaha mengalihkan perhatian Shelly.
“Shelly sayang, tugas
kamu untuk market plan bulan depan
udah kelar belum?” tangkas Silvi berhasil mengalihkan pertanyaan Shelly, teman
seruangannya yang hampir tiap hari datang menggoda dirinya.
Silvi
tidak membohongi diri, sosok Irwan begitu perfect
untuknya. Seorang direktur muda yang digandrungi karyawan-karyawan wanitanya. Jiwa
leader dan kharisma Irwan membuat ia
semakin diidolakan di perusahaannya. Memangnya pak Irwan dan keluarganya mau
menerima aku yang berstatus janda anak satu? Masa laluku? Ah, rasanya tidak
mungkin. Silvi menarik napas panjang memandangi monitor meja kerjanya yang
belum disentuhnya sama sekali sejak Shelly menggodanya tadi. Seketika, bayangan
Ibu dan Maryam seketika memenuhi pelupuk matanya.
***
Malam
sudah sangat larut. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang di jalan
menuju rumah Silvi. Kerja lembur di kantor tadi membuatnya begitu kelelahan.
Esok, ia harus berangkat ke Medan.
“Udah nyampe, Mbak.”
suara supir taksi menyadarkan dirinya yang nyaris tertidur. Silvi tak berani
memejamkan matanya, ia terus mawas diri sepanjang perjalanan. Terlalu banyak
kasus kriminal di kota besar membuatnya begitu berhati-hati memilih angkutan
umum.
“Oh, iya.
Kembaliannya ambil aja, Pak.” ucapnya tidak lama berbasa-basi dengan supir
taksi. Ia sudah sangat ingin merebahkan badannya. Diliriknya jam tangan, pukul
02.00 dini hari.
“Sudah pulang, Nak?
Mau ibu buatkan teh hangat?” suara Ibu terdengar lembut menyambut kedatangannya.
“Tidak usah bu. Nanti
Silvi yang buat sendiri. Kenapa Ibu belum tidur? Sekarang sudah sangat larut, Bu.”
ia bertanya balik.
“Tadi Ibu dan Maryam
sholat malam, Nak. Belakangan ini Maryam lagi semangat latihan sholat malam.
Berdoanya pun begitu khusyuk, Ibu bangga punya cucu seperti dia. Sekarang ia
sudah tidur di kamarnya” jawab Ibu.
Entah mengapa
perasaan Silvi tercampur aduk dengan ucapan ibu barusan. Sholat malam? Kapan
aku terakhir melakukannya? Sholat lima waktu saja masih sering bolong-bolong.
Acara shopping bareng Iin, Shelly,
atau Raya lebih terjadwal rapi daripada sholatnya. Tak terasa air matanya
jatuh.
***
Sepulang
sekolah, begitu selesai melepas sepatunya. Maryam berlari memeluk Ibu. “Ibuuu…
Maryam dapat nilai 100 tadi dari Pak guru. Maryam sudah bisa praktek bacaan
sholat! ucapnya sangat senang.
“Maryam, kalau lepas
sepatu langsung disimpan di raknya, dong.” ucap Silvi jutek yang baru saja
keluar kamar.
Maryam memandang
Silvi lamat-lamat, sedih menggelayut di pelupuk matanya. Selalu ada jarak yang
ingin ia tepis setiap memandang wanita itu. Kasih sayang atau rasa yang ia sendiri
belum pahami senantiasa menghampiri dirinya saat melihat wajah kakaknya.
“Iya, kak!” jawab
Maryam patuh. Ibu melihat tingkah Silvi yang dingin, sedingin cintanya yang
telah ia tanggalkan sejak Bram pergi.
***
Setangkai
bunga mawar putih tergeletak di atas meja kerja Silvi dari pengirim atas nama
Irwan.
Dag.. dig.. dug
perasaan Silvi tak karuan. Pak Irwan menyukaiku? Ini bukan mimpi kan? Wajahnya tersenyum
dan merona tersipu malu. Untung saja Shelly tidak melihatnya, jika iya sudah
tentu dia akan menggodainya sepanjang hari. Begitupun dengan hari-hari
selanjutnya. Tiba-tiba hp-nya berbunyi, rupanya telepon dari ibu.
“Nak, Maryam jatuh di
sekolah. Kepalanya berdarah, Maryam masih pingsan. Sekarang ada di UGD.” suara
Ibu bergetar dan terdengar begitu panik.
Baru saja hati Silvi
bahagia dengan kiriman mawar putih, kini ia syok mendengar pemberitahuan itu
dari Ibunya. Silvi bingung, ia putuskan bergegas menuju rumah sakit.
Sepanjang
perjalanan menuju RS, hujan mengguyur kota. Silvi memandang jalanan basah yang
dilaluinya, butuh 45 menit lagi ia akan tiba di tempat tujuan. Cemasnya
bertambah saat harus melewati kemacetan lalu lintas. Entah mengapa perasaannya
secemas ini. Memorinya terputar pada kenangan 10 tahun yang lalu. Betapa
bahagia hatinya saat ia akan menelpon suaminya untuk memberi tahu bahwa dirinya
hamil. Rasa haru yang sulit diungkapkan itu ingin ia bagikan kepada laki-laki
pilihannya. Namun, yang dihubungi tak kunjung menjawab panggilan. Berhari-hari,
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ia terus menghubungi Bram. Sanak
keluarga pun kehilangan kontak dan tidak memberi kabar.
Bahagia yang ia rasakan terkikis sedikit demi sedikit. Rasa cinta itu kini
menjadi benci. Benci yang ia ingin lepaskan di antara guyuran air hujan yang
menderas di luar jendela mobil yang mengantarnya ke RS. Hatinya menangis, ujian
ini belum sanggup ia lewati. Dan Maryam buah hatinya yang tidak tahu apa-apa
harus menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya selama ini.
***
Sudah
dua hari Maryam dirawat, kondisinya koma. Silvi dan Ibu secara bergantian
menjaganya. Sejak Maryam di rawat entah mengapa sikap Silvi berubah. Perasaan haru
dan kasih sayangnya muncul setiap kali memandangi wajah mungil anak tak berdosa
yang belum sadarkan diri itu. Nalurinya sebagai Ibu tidak bisa ia ditepis. Air
matanya terus mengalir. Rasa bersalah menghampirinya. Rasa itu jugalah yang
membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Maryam saat ini.
Silvi
sudah izin ke kantor untuk tidak masuk kerja. Kesehatan Maryam jauh lebih
penting bagi dirinya. Kini ia tak bisa membohongi diri. Ada rasa bersalah atas
perlakuannya selama ini pada Maryam. Maryam hanya seorang anak yang bahkan tak
meminta untuk dilahirkan dari rahimnya. Air mata Silvi kembali bercucuran
begitu deras. Ia memeluk Ibu erat yang duduk di sampingnya, memohon maaf atas
kesalahannya selama ini. Silvi berjanji, ia akan berubah untuk menebus segala
cinta yang pernah hilang selama ini untuk anaknya, Maryam.
***
Makassar, 30 Maret 2018
___ Asma’ Dzakiyah___
#RumbelMenulis
#IIPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan
Senin, 19 Februari 2018
Perjalanan Yang Menyenangkan
Bismillah...
Hari Ahad, 18 Februari 2018 menjadi salah satu hari yang menyenangkan bagi saya. Tanggal ini adalah salah satu yang saya nantikan di bulan ini. Bedah buku yang dilaksanakan di Gedung Kesenian oleh salah satu komunitas remaja di Palopo tampaknya begitu sayang jika dilewatkan.
Kali aja dapat tips cara menulis yang baik dari narasumbernya, he he.. kan lumayan dapat ilmu baru.
Hari ini jadwal olahraga pagi sepertinya harus dipending. Saya tidak ingin menjadi peserta bedah buku yang telat dan harus bersabar mendapat seat di pojokan gedung karena tidak kebagian kursi di bagian depan. Kali ini saya harus menjadi peserta yang on time.
Setelah tiba di tempat acara, masyaa Allah ternyata ruangan sudah penuh. Antusias pelajar dan mahasiswa begitu tinggi hingga gedung yang muat 500-an peserta penuh seperti ini.
Banyak ilmu yang saya dapatkan dari acara bedah buku ini hingga akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi satu tempat untuk bersantai sembari membaca novel.
Sudah menjadi kebiasaan beberapa bulan ini,setiap keluar, saya akan sisipkan satu buku bacaan di dalam tas.
Setibanya saya di tempat tujuan, ternyata saya menjadi pengunjung pertama. Acara me time kali ini nyaris sempurna. Suasana yang tenang ditemani dengan sebuah novel dan semangkuk es buah sudah lebih dari cukup membuat kepala yang panas karena harus banyak berpikir selama sepekan belakangan akhirnya bisa rileks seperti ini.
Setelah menyelesaikan bacaan, akhirnya saya membuat sebuah outline cerpen untuk bulan ini. Iya, saat suasana hati sedang bahagia, kucuran ide begitu mudah dituangkan. He he..
Dan taraa, jadilah satu outline cerpen baru.
Saya pun beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju pasar untuk membeli bahan masakan hari ini. Weekend adalah moment yang pas menyalurkan semua hobby. He.. he..
Sebelum matahari tergelincir di arah barat, saya putuskan untuk kembali ke rumah.
Perjalanan hari sudah berhasil membuat saya bahagia.. :)
Hari Ahad, 18 Februari 2018 menjadi salah satu hari yang menyenangkan bagi saya. Tanggal ini adalah salah satu yang saya nantikan di bulan ini. Bedah buku yang dilaksanakan di Gedung Kesenian oleh salah satu komunitas remaja di Palopo tampaknya begitu sayang jika dilewatkan.
Kali aja dapat tips cara menulis yang baik dari narasumbernya, he he.. kan lumayan dapat ilmu baru.
Hari ini jadwal olahraga pagi sepertinya harus dipending. Saya tidak ingin menjadi peserta bedah buku yang telat dan harus bersabar mendapat seat di pojokan gedung karena tidak kebagian kursi di bagian depan. Kali ini saya harus menjadi peserta yang on time.
Setelah tiba di tempat acara, masyaa Allah ternyata ruangan sudah penuh. Antusias pelajar dan mahasiswa begitu tinggi hingga gedung yang muat 500-an peserta penuh seperti ini.
Banyak ilmu yang saya dapatkan dari acara bedah buku ini hingga akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi satu tempat untuk bersantai sembari membaca novel.
Sudah menjadi kebiasaan beberapa bulan ini,setiap keluar, saya akan sisipkan satu buku bacaan di dalam tas.
Setibanya saya di tempat tujuan, ternyata saya menjadi pengunjung pertama. Acara me time kali ini nyaris sempurna. Suasana yang tenang ditemani dengan sebuah novel dan semangkuk es buah sudah lebih dari cukup membuat kepala yang panas karena harus banyak berpikir selama sepekan belakangan akhirnya bisa rileks seperti ini.
Setelah menyelesaikan bacaan, akhirnya saya membuat sebuah outline cerpen untuk bulan ini. Iya, saat suasana hati sedang bahagia, kucuran ide begitu mudah dituangkan. He he..
Dan taraa, jadilah satu outline cerpen baru.
Saya pun beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju pasar untuk membeli bahan masakan hari ini. Weekend adalah moment yang pas menyalurkan semua hobby. He.. he..
Sebelum matahari tergelincir di arah barat, saya putuskan untuk kembali ke rumah.
Perjalanan hari sudah berhasil membuat saya bahagia.. :)
Jumat, 19 Januari 2018
Perkenalan Matrikulasi
Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh… Perkenalkan nama saya Wahyuni, biasanya dipanggil Uni atau Yuni. Lahir di kabupaten Enrekang tanggal 19 Juni 1989. Kegiatan saya saat ini adalah mengajar di kampus di kota Palopo. Selain mengajar, saya juga terus belajar menulis karena salah satu impian saya adalah menjadi seorang penulis. Pertama kali mengenal Institute Ibu Profesional di tahun 2016 (kalau gak salah ya, he he) melalui seorang teman kampus. Beliau melihat minat saya yang begitu besar mempelajari ilmu parenting sehingga sahabat saya itu menyarankan untuk gabung di grup IIP Susel. Waktu itu WAG IIP belum ada kelas matrikulasinya, masih sebatas diskusi harian. Yang paling ramai itu kalau hari jumat, acara market day. Masyaa Allah seketika gallery whatsapp full dengan gambar jualan yang beragam macamnya. Awalnya saya tertarik di matrikulasi batch 1 tapi waktu itu kegiatan kampus juga sedang padat sehingga saya menunggu batch 2, walaupun ujung-ujungnya baru kesampaian di batch 5 ini. He he he.. Alasan saya gabung di IIP karena saya ingin belajar lebih jauh tentang dunia parenting. Meskipun saat gabung dan sampai hari ini masih berstatus single tapi ilmu ini penting bagi saya. Preventif selalu jauh lebih baik daripada kuratif. Mempersiapkan diri dari awal sebelum berumah-tangga lebih bijak menurut saya ketimbang setelah menikah baru belajar semuanya dari garis start. J Saya salut dengan program berkelanjutan di IIP, orientasinya jelas dengan adanya pembelajaran seperti matrikulasi-bunda sayang dan sebagainya yang tentunya membuat kita lebih tertantang untuk betul-betul belajar menjadi calon ibu atau ibu yang professional. Sukses selalu buat IIP. Syukron jazakunallahu khayran
Langganan:
Postingan (Atom)