Rumah adalah istana yang menyenangkan bagi saya. Di sanalah tempat bertumbuh, mendapatkan kasih sayang sekligus sekolah pertama yang harus saya lewati. Kalau ditanya, gurunya siapa? Jawabannya Ayah, Ibu, dan saudara-saudarayang lain. Lahir sebagai bungsu, sudah tentu limpahan kasih sayang tidak berkurang sedikitpun. Meski begitu, kami bersaudara tidak ada yang mendapat keistimewaan tersendiri dari orang tua. Semua anak mendapat perlakuan yang sama. Dan yang akhirnya saya pahami, kami dididik untuk mandiri. Hal ini sangat terasa ketika pertama kali saya melanjutkan kuliah setelah SMA. Hidup jauh dari orang tua membuat saya harus mampu bertahan di kampung orang. Termasuk melakukan pekerjaan rumah sendiri, seperti membersihkan, mencuci piring, menyapu, mengepel, bahkan memperbaiki perabotan yang rusak. Untuk memperbaiki genteng yang bocor atau menggali sumur, bukan keahlian saya ya. :D
Di antara semua pekerjaan yang saya kerjakan, ada satu pekerjaan yang saya senangi. Memasak. Entah mengapa pekerjaan ini mampu menghipnotis saya untuk betah di dapur selama berjam-jam. Berhadapan dengan pisau, kompor, atau bahan makanan yang siap untuk diolah. Memasak adalah paduan seni dan keahlian. Meski kita memiliki keahlian di dapur, tanpa sentuhan seni, hasil masakan menjadi hambar. Begitupun sebaliknya, punya jiwa seni tapi tidak tahu memasak, ya berarti tidak akan ada masakan yang jadi. :D
Satu hal penting yang menjadi alasan saya mencintai aktivitas ini, karena memasak itu adalah pertaruhan mood (lebay juga bahasanya) :D Ketika kita memasak dengan mood yang kurang baik, lagi bete misalnya, masakan itu mampu membaca kondisi hati kita. Ini yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi itulah kenyataannya. Hahaa. Beda jika kita memasak dengan kondisi hati yang sedang bahagia, hasilnya pun bisa membahagiakan orag-orang yang mencicipinya. Ada kepuasan tersendiri jika orang—orang senang dengan apa yang sudah kita lakukan.
Karena kebiasaan hidup mandiri ini pulalah sehingga saat momen pulang kampung, dapur menjadi sasaran empuk saya ketika di rumah. Apalagi ditambah dengan peralatan yang lebih lengkap dibanding di tempat perantauan. Tentunya hal ini akan lebih menantang lagi untuk menghasilkan sebuah masakan yang bukan lagi ala anak kos-kosan. :D
Jadi, apapun aktivitas rumah yang kamu senangi, niatkanlah selalu untuk membahagiakan orang-orang di sekitarmu. Jangan lupa jadikan sebagai ladang pahala. Aamiin. Selamat bahagia. (
£OWOPPekan4
£OWOPMaret2019
£RumbelMenulisIPS
£RumbelMenulisSulawesi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar