Jumat, 30 Maret 2018

CINTA UNTUK MARYAM



Braakk!! Terdengar suara buku berhamburan dari rak yang telah tersusun rapi. “Maryaamm! pelan-pelan. Tuh kan bukunya berantakan. Kalau mau ambil barang bilang dulu sama Kakak atau Ibu!” teriak Silvi kaget yang tengah asyik dengan majalahnya. 
“Sini, sayang… biar Ibu yang bantu.” Ibu yang muncul dari arah dapur berusaha menenangkan Maryam yang masih duduk tergugup menyadari kesalahannya pagi itu. Di rumah itu hanya ibu yang paling memahami dan perhatian pada Maryam, gadis mungil yang masih berumur 10 tahun. Tapi itu tidak berlaku bagi Silvi, meskipun Maryam sebenarnya adalah anak kandungnya, buah dari pernikahannya dengan mas Bram. Sejak Silvi mengandung Maryam 5 bulan, Mas Bram menghilang tanpa kabar berita lagi. Sekarang, semua hal tentang Mas Bram sudah dilupakan oleh Silvi, bahkan harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya itu sudah ia buang jauh-jauh.
            Silvi melahirkan Maryam secara caesar, hingga saat ini ia masih sulit menerima kenyataan sebagai single parent jika saja bukan ibu yang selalu ada di sampingnya menyemangati untuk bertahan menghadapi ujian hidup. Ibu adalah ibu bagi Silvi dan Maryam. Silvi tidak ingin dipanggil ibu oleh Maryam, cukup dengan panggilan kakak. Silvi tidak ingin Maryam tahu bahwa ia adalah ibu kandungnya. Teman-teman kantor barunya saat ini juga tidak tahu status dirinya. Image yang ia bangun hingga jenjang kariernya yang sekarang tidak ingin ia hancurkan hanya karena kehadiran Maryam. Dan Mas Bram? Hanya luka yang ia tinggalkan untuk Silvi.  

“Kak, Maryam ke sekolah dulu.” begitu berhati-hati ia pamit pada Silvi yang baru saja membentaknya. “Hmm..!” Silvi menyodorkan tangannya pada Maryam yang ingin menyalaminya tanpa beralih pandang dari majalah miliknya.
Ibu menatap tingkah cuek Silvi dari arah dapur. Ada rasa perih di hatinya jika setiap kali melihat perlakuan Silvi kepada cucu kesayangannya itu.
“Nak, kapan kamu mau mengubah sikapmu pada Maryam? Kasihan dia, masih kecil tapi kamu bentak terus. Gusti Allah sayang sama kamu dengan ujianmu saat ini, Cobalah membuka hati untuk menerima keberadaannya, Nak.” bujuk ibu begitu lembut pada anak semata wayangnya.
“Akan ada waktunya, Bu. Saat ini Silvi belum bisa.” jawabnya datar.
Maryam bagi Silvi adalah beban yang terus mengikutinya. Silvi ingin bebas seperti teman-teman sekantornya yang lain. Raya, Shelly, Iin. Ah, mereka wanita-wanita single itu begitu menikmati masa mudanya. Tanpa beban, mau kemanapun begitu bebas. Silvi seperti menyesal telah menerima lamaran Mas Bram, pemilik nama lengkap Ibrahim yang saat ini keberadaannya entah dimana.
***
“ Mbak Silvi lusa jadi berangkat ke Medan, kan? Ciee.. yang ditemenin sama pak bos kece… “ goda Shelly sambil memicingkan matanya pada Silvi.
“ Ah, kamu. Di sana kan cuma 2 hari mengisi training untuk karyawan baru, habis itu balik lagi ke sini.” ucapnya membalas godaan Shelly.
“ Mbak, apa sih yang kurang dari pak Irwan? Udah tampan, kariernya bagus, kurang apalagi, hayo? Kalau pak Irwan ngelamar Mbak, Mbak Silvi gak bakal nolak, kan?” pertanyaan Shelly kali ini membuatnya semakin salah tingkah. Yang ditanya tak menjawab. Tapi ia selalu berusaha mengalihkan perhatian Shelly.
“Shelly sayang, tugas kamu untuk market plan bulan depan udah kelar belum?” tangkas Silvi berhasil mengalihkan pertanyaan Shelly, teman seruangannya yang hampir tiap hari datang menggoda dirinya.            
Silvi tidak membohongi diri, sosok Irwan begitu perfect untuknya. Seorang direktur muda yang digandrungi karyawan-karyawan wanitanya. Jiwa leader dan kharisma Irwan membuat ia semakin diidolakan di perusahaannya. Memangnya pak Irwan dan keluarganya mau menerima aku yang berstatus janda anak satu? Masa laluku? Ah, rasanya tidak mungkin. Silvi menarik napas panjang memandangi monitor meja kerjanya yang belum disentuhnya sama sekali sejak Shelly menggodanya tadi. Seketika, bayangan Ibu dan Maryam seketika memenuhi pelupuk matanya.  
***
Malam sudah sangat larut. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang di jalan menuju rumah Silvi. Kerja lembur di kantor tadi membuatnya begitu kelelahan. Esok, ia harus berangkat ke Medan.
“Udah nyampe, Mbak.” suara supir taksi menyadarkan dirinya yang nyaris tertidur. Silvi tak berani memejamkan matanya, ia terus mawas diri sepanjang perjalanan. Terlalu banyak kasus kriminal di kota besar membuatnya begitu berhati-hati memilih angkutan umum.
“Oh, iya. Kembaliannya ambil aja, Pak.” ucapnya tidak lama berbasa-basi dengan supir taksi. Ia sudah sangat ingin merebahkan badannya. Diliriknya jam tangan, pukul 02.00 dini hari.
“Sudah pulang, Nak? Mau ibu buatkan teh hangat?” suara Ibu terdengar lembut menyambut kedatangannya.
“Tidak usah bu. Nanti Silvi yang buat sendiri. Kenapa Ibu belum tidur? Sekarang sudah sangat larut, Bu.” ia bertanya balik.
“Tadi Ibu dan Maryam sholat malam, Nak. Belakangan ini Maryam lagi semangat latihan sholat malam. Berdoanya pun begitu khusyuk, Ibu bangga punya cucu seperti dia. Sekarang ia sudah tidur di kamarnya” jawab Ibu.
Entah mengapa perasaan Silvi tercampur aduk dengan ucapan ibu barusan. Sholat malam? Kapan aku terakhir melakukannya? Sholat lima waktu saja masih sering bolong-bolong. Acara shopping bareng Iin, Shelly, atau Raya lebih terjadwal rapi daripada sholatnya. Tak terasa air matanya jatuh.
***
Sepulang sekolah, begitu selesai melepas sepatunya. Maryam berlari memeluk Ibu. “Ibuuu… Maryam dapat nilai 100 tadi dari Pak guru. Maryam sudah bisa praktek bacaan sholat! ucapnya sangat senang.
“Maryam, kalau lepas sepatu langsung disimpan di raknya, dong.” ucap Silvi jutek yang baru saja keluar kamar.
Maryam memandang Silvi lamat-lamat, sedih menggelayut di pelupuk matanya. Selalu ada jarak yang ingin ia tepis setiap memandang wanita itu. Kasih sayang atau rasa yang ia sendiri belum pahami senantiasa menghampiri dirinya saat melihat wajah kakaknya.
“Iya, kak!” jawab Maryam patuh. Ibu melihat tingkah Silvi yang dingin, sedingin cintanya yang telah ia tanggalkan sejak Bram pergi.
***
Setangkai bunga mawar putih tergeletak di atas meja kerja Silvi dari pengirim atas nama Irwan.
Dag.. dig.. dug perasaan Silvi tak karuan. Pak Irwan menyukaiku? Ini bukan mimpi kan? Wajahnya tersenyum dan merona tersipu malu. Untung saja Shelly tidak melihatnya, jika iya sudah tentu dia akan menggodainya sepanjang hari. Begitupun dengan hari-hari selanjutnya. Tiba-tiba hp-nya berbunyi, rupanya telepon dari ibu.
“Nak, Maryam jatuh di sekolah. Kepalanya berdarah, Maryam masih pingsan. Sekarang ada di UGD.” suara Ibu bergetar dan terdengar begitu panik.
Baru saja hati Silvi bahagia dengan kiriman mawar putih, kini ia syok mendengar pemberitahuan itu dari Ibunya. Silvi bingung, ia putuskan bergegas menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju RS, hujan mengguyur kota. Silvi memandang jalanan basah yang dilaluinya, butuh 45 menit lagi ia akan tiba di tempat tujuan. Cemasnya bertambah saat harus melewati kemacetan lalu lintas. Entah mengapa perasaannya secemas ini. Memorinya terputar pada kenangan 10 tahun yang lalu. Betapa bahagia hatinya saat ia akan menelpon suaminya untuk memberi tahu bahwa dirinya hamil. Rasa haru yang sulit diungkapkan itu ingin ia bagikan kepada laki-laki pilihannya. Namun, yang dihubungi tak kunjung menjawab panggilan. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ia terus menghubungi Bram. Sanak keluarga  pun  kehilangan kontak dan tidak memberi kabar. Bahagia yang ia rasakan terkikis sedikit demi sedikit. Rasa cinta itu kini menjadi benci. Benci yang ia ingin lepaskan di antara guyuran air hujan yang menderas di luar jendela mobil yang mengantarnya ke RS. Hatinya menangis, ujian ini belum sanggup ia lewati. Dan Maryam buah hatinya yang tidak tahu apa-apa harus menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya selama ini.
***
Sudah dua hari Maryam dirawat, kondisinya koma. Silvi dan Ibu secara bergantian menjaganya. Sejak Maryam di rawat entah mengapa sikap Silvi berubah. Perasaan haru dan kasih sayangnya muncul setiap kali memandangi wajah mungil anak tak berdosa yang belum sadarkan diri itu. Nalurinya sebagai Ibu tidak bisa ia ditepis. Air matanya terus mengalir. Rasa bersalah menghampirinya. Rasa itu jugalah yang membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Maryam saat ini.
Silvi sudah izin ke kantor untuk tidak masuk kerja. Kesehatan Maryam jauh lebih penting bagi dirinya. Kini ia tak bisa membohongi diri. Ada rasa bersalah atas perlakuannya selama ini pada Maryam. Maryam hanya seorang anak yang bahkan tak meminta untuk dilahirkan dari rahimnya. Air mata Silvi kembali bercucuran begitu deras. Ia memeluk Ibu erat yang duduk di sampingnya, memohon maaf atas kesalahannya selama ini. Silvi berjanji, ia akan berubah untuk menebus segala cinta yang pernah hilang selama ini untuk anaknya, Maryam. 
***

Makassar, 30 Maret 2018

___ Asma’ Dzakiyah___

#RumbelMenulis
#IIPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan