Jumat, 17 Agustus 2018

Ternyata Seperti Itu Rasanya

Tulisan ini saya gores setelah selesai mengetik satu cerpen. Bingung juga apakah itu layak disebut cerpen atau tidak, yang jelas tulisan yang saya buat itu tembus 15 halaman ukuran kertas A4. :D

Ternyata seperti itu rasanya menulis. Tidak semudah membaca satu novel best seller ratusan halaman lalu mereview-nya, guys. Ha ha..
Sebagai penulis pemula, semua serba kaku. Takut ceritanya tidak menarik pembaca, khawatir bahasanya membosankan karena miskin kosa kata, atau cemas karakter tokoh yang tidak hidup. Huuff, butuh perjuangan untuk melawan itu semua.

Beginilah nasib penulis pemula, banyak godaan karena belum terbiasa bermain tinta. Tapi yang pasti, siapapun yang mulai memilih jalan untuk berkarya dengan pena seperti itu sudah pasti memiliki tantangan.
Tantangan yang paling besar bukan karena tulisan kita dihujat pembaca atau ditolak redaksi. Bukan, bukan itu masalahnya.
Tantangan terbesar itu lahir dari diri sendiri. Mencoba menguasai diri dan berani keluar dari zona nyaman. Terus belajar untuk move up dan tetap menjalankan misi. Ceileeh..

Membiasakan diri untuk terus belajar dan tetap membaca sudah menjadi rahasia umum untuk menaikkan kualitas tulisan kita.
Begitu banyak tips dan trik menulis yang dibagikan google, pintu ajaib super canggih yang saat ini masih menjadi favorite banyak orang untuk mencari informasi. Tapi, kembali lagi pada diri kita, keputusan apakah ide yang sudah matang di otak kita hanya menjadi sebatas imajinasi ataukah tertuang di atas kertas menjadi sebuah karya, itu sebuah pilihan.
Setelah memutuskan untuk menuliskannya, ujian selanjutnya adalah bagaimana menjadikan ide itu sebagai tulisan yang menarik. Untuk itu kita butuh menyusun strategi, mulai dari mapping atau outline, konsistensi menulis, hingga cara menyelipkan nilai dalam sebuah tulisan. Menantang banget, bukan? He he..

Setelah melewati itu semua, saya yakin kamu akan sependapat dengan saya untuk berkata,
ternyata seperti itu rasanya. :D :D



2 komentar: