Minggu, 05 Maret 2017

Jalan Pilihan (part 1)

 Ketika seseorang memasuki masa dewasa dalam hidupnya, maka tak sedikit hal-hal baru yang kan dia temui. Hal-hal baru itu bisa datang dari lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah atau bahkan lingkungan teman sebaya. Iya, seseorang akan terwarnai seperti apa didikan dari lingkungannya. Ada yang terdampar dalam lingkungan yang positif bahkan tak jarang yang berada dalam lingkungan yang negatif. Apakah ini sebuah kebetulan?

 Mari kita simak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berikut ini; “Pemisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapanya yang tidak sedap”. (Hadits Riwayat Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Berangkat dari hadits di atas, ada sebuah pelajaran penting yang menjadi bahan renungan kita bersama bahwa agama seseorang sangatlah bergantung dari agama temannya. Mari kita cek and ricek satu persatu teman kita, seperti apa teman-teman yang senantiasa membersamai kita selama ini.    Mengapa harus teman? karena lingkungan kedua yang paling berpengaruh pada seseorang setelah rumah adalah teman bergaul, baik itu teman sekolah, teman kuliah atau bahkan teman sekadar jalan. Pembahasan dalam tulisan kali ini tidak akan membahas masalah tips dan trik memilih teman yang baik. Bukan, bukan itu… :D  

Adalah sebuah keunikan tersendiri ketika dalam pertemanan atau persahabatan seseorang mampu terinspirasi untuk mengambil sebuah keputusan penting tentang apa yang menjadi visi capaian hidupnya ke depan. Tentunya menjadi pertanyaan, pertemanan seperti apa yang dibangun sehingga bisa menjadi acuan yang bahkan mampu mengubah sudut pandang seseorang? Inilah yang disebut dengan pertemanan bahkan lebih layak disebut persaudaraan karena landasan cinta. Cinta??? Cinta karena hobby yang sama ataukah karena lawan jenis? oh bukan.. bukan itu. Cinta yang dimaksud adalah cinta karena Allah. Ada ikatan kuat yang membingkai pertemanan itu menjadi sesuatu yang indah, inilah yang di sebut ukhuwah islamiyah. Lantas, apa yang ada terjadi dalam pertemanan seperti itu? Ukhuwah islamiyah yang terbangun dalam kondisi seperti ini adalah ketika seseorang melihat temannya tersebut atau bahkan lebih layak disebut saudarinya seperti melihat dirinya sendiri. Tentu yang kita inginkan adalah hal-hal yang baik saja kan pada diri kita? Nah seperti itu pula dia melihat temannya tersebut, ingin melihat temannya juga menjadi baik seperti apa yang dia inginkan ada pada dirinya.

Jalan pilihan ‘membaikkan’ orang lain seperti kebaikan yang dia kehendaki ada pada dirinya tidaklah mudah. Mengapa? karena ada hal yang bisa jadi pembeda dalam diri dua individu, minimal dalam hal perbedaan sudut pandang dan cara berpikir. Tidak sedikit celoteh atau tanggapan miring akan bermunculan ketika seseorang telah memilih jalan untuk ‘membaikkan” orang lain. Misalnya; “Emang situ udah baik? Urus diri sendiri dulu deh baru urus orang lain!” Jleb… Atau bahkan ada yang seperti ini; “Hey, udah deh ngapain urus orang lain.. masih banyak yang harus kamu lakuin daripada campuri hidup orang lain.. mau dia baik kek mau jahat kek yang penting kan kamu ngga macem-macem!”. Pernah terlintas pikiran sperti itu?  

Bersambung…

1 komentar: