Minggu, 12 Maret 2017

Inilah Yang Terpilih (Jalan Pilihan Part 2)

JALAN PILIHAN (part 2)
INILAH YANG TERPILIH

Dalam kehidupan ini, tidak sedikit langkah kita terhenti oleh pertanyaan, mau seperti apa aku nantinya? Ketika pertanyaan ini mulai menghinggapi seolah-olah dialog dalam diri kita pun dimulai. Seperti apa masa depanku? Hari tuaku, setelah ku mati, apa yang akan terjadi? Dan beragam model masa depan mulai terlintas satu-persatu. Ada yang membayangkan dirinya sebagai seorang pengusaha sukses dengan segala fasilitas yang mewah, menjadi seorang karyawan yang hidup sederhana dengan keluarga kecilnya, bahkan sepintas lewat bayangan akan kondisi terburuk pun ikut bermunculan. Yang manakah yang mengatarkan pada kebahagiaan?
Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai seorang muslim, sudah ada landasan kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kembalilah pada pedoman utama kita yakni Al-Qur’an:  
“ Ia (Al-Qur’an) merupakan kitab suci yang tidak pernah tercampur dengan kebatilan dari mana pun dan tidak ada sesuatu pun yang diragukan dari padanya”. (QS.  Al-Baqarah: 2)

Selanjutnya, rancangan kebahagiaan seperti apa yang akan kita lakukan?
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97)
Sekarang sangatlah jelas bahwa ada jalan yang telah Allah firmankan dalam kitab-Nya bahwa dengan petunjuk tersebut bisa menjadi pilihan terbaik untuk meraih kebahagiaan hidup yang hakiki. Kebahagiaan dimana? Ketika seorang hamba telah sampai pada ujung pengembaraannya, yaitu di jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun seperti apakah rancangan perjalanan hidup yang kita bisa rancang untuk mendapatkannya?
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Taubah: 111)
            Setelah kita menetapkan langkah di atas sebagi pilihan untuk mencapai kebahagaan yang hakiki, apakah dengan seperti itu tugas kita selesai dengan mudah? Sungguh tidak. Setiap pilihan itu akan berbuah konsekuensi. Konsekuensi seperti apa? Keridhoan manusia atau keridhoan Allah.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS.Al-Baqarah:214)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS.Ali Imran:186)
Tidak sedikit ujian akan menempa kehidupan seseorang saat dia melewati jalan pilihan pada hal yang telah kita bahas di atas. Tentu saja badai dan tempaan akan hinggap dalam kehidupan seorang mukmin. Lantas, dengan uian yang menghampiri tersebut apakah seseorang akan dengan mudah menyerah? Hal ini akan terlihat dalam kesungguhannya dalam menerima konsekuensi jalan pilihan hidupnya. Karena sudah tentu ia menyadari bahwa ujian di dunia tidaklah akan melebihi kapasitas kemampuannya.
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32)
Pemahaman yang mendalam akan seperti apa posisi dunia dalam memaknai kehidupannya saat melewati ujian yang menghampiri juga merupakan poin penting untuk menguatkan langkah-langkah seseorang untuk meraih jannah melalui jalan pilihannya.

#OWOP pekan 6
#Rumbel Nulis
#IPP Sulsel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar