Braakk!!
Terdengar suara buku berhamburan dari rak yang telah tersusun rapi. “Maryaamm!
pelan-pelan. Tuh kan bukunya berantakan. Kalau mau ambil barang bilang dulu
sama Kakak atau Ibu!” teriak Silvi kaget yang tengah asyik dengan majalahnya.
“Sini, sayang… biar
Ibu yang bantu.” Ibu yang muncul dari arah dapur berusaha menenangkan Maryam
yang masih duduk tergugup menyadari kesalahannya pagi itu. Di rumah itu hanya
ibu yang paling memahami dan perhatian pada Maryam, gadis mungil yang masih
berumur 10 tahun. Tapi itu tidak berlaku bagi Silvi, meskipun Maryam sebenarnya
adalah anak kandungnya, buah dari pernikahannya dengan mas Bram. Sejak Silvi
mengandung Maryam 5 bulan, Mas Bram menghilang tanpa kabar berita lagi.
Sekarang, semua hal tentang Mas Bram sudah dilupakan oleh Silvi, bahkan
harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya itu sudah ia buang
jauh-jauh.
Silvi melahirkan Maryam secara caesar, hingga saat ini ia masih sulit
menerima kenyataan sebagai single parent
jika saja bukan ibu yang selalu ada di sampingnya menyemangati untuk bertahan
menghadapi ujian hidup. Ibu adalah ibu bagi Silvi dan Maryam. Silvi tidak ingin
dipanggil ibu oleh Maryam, cukup dengan panggilan kakak. Silvi tidak ingin
Maryam tahu bahwa ia adalah ibu kandungnya. Teman-teman kantor barunya saat ini
juga tidak tahu status dirinya. Image
yang ia bangun hingga jenjang kariernya yang sekarang tidak ingin ia hancurkan
hanya karena kehadiran Maryam. Dan Mas Bram? Hanya luka yang ia tinggalkan
untuk Silvi.
“Kak, Maryam ke
sekolah dulu.” begitu berhati-hati ia pamit pada Silvi yang baru saja
membentaknya. “Hmm..!” Silvi menyodorkan tangannya pada Maryam yang ingin
menyalaminya tanpa beralih pandang dari majalah miliknya.
Ibu menatap tingkah
cuek Silvi dari arah dapur. Ada rasa perih di hatinya jika setiap kali melihat
perlakuan Silvi kepada cucu kesayangannya itu.
“Nak, kapan kamu mau
mengubah sikapmu pada Maryam? Kasihan dia, masih kecil tapi kamu bentak terus.
Gusti Allah sayang sama kamu dengan ujianmu saat ini, Cobalah membuka hati
untuk menerima keberadaannya, Nak.” bujuk ibu begitu lembut pada anak semata
wayangnya.
“Akan ada waktunya, Bu.
Saat ini Silvi belum bisa.” jawabnya datar.
Maryam bagi Silvi
adalah beban yang terus mengikutinya. Silvi ingin bebas seperti teman-teman
sekantornya yang lain. Raya, Shelly, Iin. Ah, mereka wanita-wanita single itu
begitu menikmati masa mudanya. Tanpa beban, mau kemanapun begitu bebas. Silvi
seperti menyesal telah menerima lamaran Mas Bram, pemilik nama lengkap Ibrahim
yang saat ini keberadaannya entah dimana.
***
“
Mbak Silvi lusa jadi berangkat ke Medan, kan? Ciee.. yang ditemenin sama pak
bos kece… “ goda Shelly sambil memicingkan matanya pada Silvi.
“ Ah, kamu. Di sana
kan cuma 2 hari mengisi training untuk karyawan baru, habis itu balik lagi ke
sini.” ucapnya membalas godaan Shelly.
“ Mbak, apa sih yang
kurang dari pak Irwan? Udah tampan, kariernya bagus, kurang apalagi, hayo?
Kalau pak Irwan ngelamar Mbak, Mbak Silvi gak bakal nolak, kan?” pertanyaan
Shelly kali ini membuatnya semakin salah tingkah. Yang ditanya tak menjawab.
Tapi ia selalu berusaha mengalihkan perhatian Shelly.
“Shelly sayang, tugas
kamu untuk market plan bulan depan
udah kelar belum?” tangkas Silvi berhasil mengalihkan pertanyaan Shelly, teman
seruangannya yang hampir tiap hari datang menggoda dirinya.
Silvi
tidak membohongi diri, sosok Irwan begitu perfect
untuknya. Seorang direktur muda yang digandrungi karyawan-karyawan wanitanya. Jiwa
leader dan kharisma Irwan membuat ia
semakin diidolakan di perusahaannya. Memangnya pak Irwan dan keluarganya mau
menerima aku yang berstatus janda anak satu? Masa laluku? Ah, rasanya tidak
mungkin. Silvi menarik napas panjang memandangi monitor meja kerjanya yang
belum disentuhnya sama sekali sejak Shelly menggodanya tadi. Seketika, bayangan
Ibu dan Maryam seketika memenuhi pelupuk matanya.
***
Malam
sudah sangat larut. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang di jalan
menuju rumah Silvi. Kerja lembur di kantor tadi membuatnya begitu kelelahan.
Esok, ia harus berangkat ke Medan.
“Udah nyampe, Mbak.”
suara supir taksi menyadarkan dirinya yang nyaris tertidur. Silvi tak berani
memejamkan matanya, ia terus mawas diri sepanjang perjalanan. Terlalu banyak
kasus kriminal di kota besar membuatnya begitu berhati-hati memilih angkutan
umum.
“Oh, iya.
Kembaliannya ambil aja, Pak.” ucapnya tidak lama berbasa-basi dengan supir
taksi. Ia sudah sangat ingin merebahkan badannya. Diliriknya jam tangan, pukul
02.00 dini hari.
“Sudah pulang, Nak?
Mau ibu buatkan teh hangat?” suara Ibu terdengar lembut menyambut kedatangannya.
“Tidak usah bu. Nanti
Silvi yang buat sendiri. Kenapa Ibu belum tidur? Sekarang sudah sangat larut, Bu.”
ia bertanya balik.
“Tadi Ibu dan Maryam
sholat malam, Nak. Belakangan ini Maryam lagi semangat latihan sholat malam.
Berdoanya pun begitu khusyuk, Ibu bangga punya cucu seperti dia. Sekarang ia
sudah tidur di kamarnya” jawab Ibu.
Entah mengapa
perasaan Silvi tercampur aduk dengan ucapan ibu barusan. Sholat malam? Kapan
aku terakhir melakukannya? Sholat lima waktu saja masih sering bolong-bolong.
Acara shopping bareng Iin, Shelly,
atau Raya lebih terjadwal rapi daripada sholatnya. Tak terasa air matanya
jatuh.
***
Sepulang
sekolah, begitu selesai melepas sepatunya. Maryam berlari memeluk Ibu. “Ibuuu…
Maryam dapat nilai 100 tadi dari Pak guru. Maryam sudah bisa praktek bacaan
sholat! ucapnya sangat senang.
“Maryam, kalau lepas
sepatu langsung disimpan di raknya, dong.” ucap Silvi jutek yang baru saja
keluar kamar.
Maryam memandang
Silvi lamat-lamat, sedih menggelayut di pelupuk matanya. Selalu ada jarak yang
ingin ia tepis setiap memandang wanita itu. Kasih sayang atau rasa yang ia sendiri
belum pahami senantiasa menghampiri dirinya saat melihat wajah kakaknya.
“Iya, kak!” jawab
Maryam patuh. Ibu melihat tingkah Silvi yang dingin, sedingin cintanya yang
telah ia tanggalkan sejak Bram pergi.
***
Setangkai
bunga mawar putih tergeletak di atas meja kerja Silvi dari pengirim atas nama
Irwan.
Dag.. dig.. dug
perasaan Silvi tak karuan. Pak Irwan menyukaiku? Ini bukan mimpi kan? Wajahnya tersenyum
dan merona tersipu malu. Untung saja Shelly tidak melihatnya, jika iya sudah
tentu dia akan menggodainya sepanjang hari. Begitupun dengan hari-hari
selanjutnya. Tiba-tiba hp-nya berbunyi, rupanya telepon dari ibu.
“Nak, Maryam jatuh di
sekolah. Kepalanya berdarah, Maryam masih pingsan. Sekarang ada di UGD.” suara
Ibu bergetar dan terdengar begitu panik.
Baru saja hati Silvi
bahagia dengan kiriman mawar putih, kini ia syok mendengar pemberitahuan itu
dari Ibunya. Silvi bingung, ia putuskan bergegas menuju rumah sakit.
Sepanjang
perjalanan menuju RS, hujan mengguyur kota. Silvi memandang jalanan basah yang
dilaluinya, butuh 45 menit lagi ia akan tiba di tempat tujuan. Cemasnya
bertambah saat harus melewati kemacetan lalu lintas. Entah mengapa perasaannya
secemas ini. Memorinya terputar pada kenangan 10 tahun yang lalu. Betapa
bahagia hatinya saat ia akan menelpon suaminya untuk memberi tahu bahwa dirinya
hamil. Rasa haru yang sulit diungkapkan itu ingin ia bagikan kepada laki-laki
pilihannya. Namun, yang dihubungi tak kunjung menjawab panggilan. Berhari-hari,
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ia terus menghubungi Bram. Sanak
keluarga pun kehilangan kontak dan tidak memberi kabar.
Bahagia yang ia rasakan terkikis sedikit demi sedikit. Rasa cinta itu kini
menjadi benci. Benci yang ia ingin lepaskan di antara guyuran air hujan yang
menderas di luar jendela mobil yang mengantarnya ke RS. Hatinya menangis, ujian
ini belum sanggup ia lewati. Dan Maryam buah hatinya yang tidak tahu apa-apa
harus menjadi pelampiasan atas segala kekesalannya selama ini.
***
Sudah
dua hari Maryam dirawat, kondisinya koma. Silvi dan Ibu secara bergantian
menjaganya. Sejak Maryam di rawat entah mengapa sikap Silvi berubah. Perasaan haru
dan kasih sayangnya muncul setiap kali memandangi wajah mungil anak tak berdosa
yang belum sadarkan diri itu. Nalurinya sebagai Ibu tidak bisa ia ditepis. Air
matanya terus mengalir. Rasa bersalah menghampirinya. Rasa itu jugalah yang
membuatnya tidak ingin jauh-jauh dari Maryam saat ini.
Silvi
sudah izin ke kantor untuk tidak masuk kerja. Kesehatan Maryam jauh lebih
penting bagi dirinya. Kini ia tak bisa membohongi diri. Ada rasa bersalah atas
perlakuannya selama ini pada Maryam. Maryam hanya seorang anak yang bahkan tak
meminta untuk dilahirkan dari rahimnya. Air mata Silvi kembali bercucuran
begitu deras. Ia memeluk Ibu erat yang duduk di sampingnya, memohon maaf atas
kesalahannya selama ini. Silvi berjanji, ia akan berubah untuk menebus segala
cinta yang pernah hilang selama ini untuk anaknya, Maryam.
***
Makassar, 30 Maret 2018
___ Asma’ Dzakiyah___
#RumbelMenulis
#IIPSulawesi
#ChallengeMaret
#Hujan
Keren banget, Bun ceritanya. Ikut hanyut 😥
BalasHapusSama-sama, Bund. Saya masih belajar nulis, Bund. Hehe
BalasHapus